Laman

Tampilkan postingan dengan label Makam Sunan Bonang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam Sunan Bonang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2014

Tasbih Biji Pisang Pidak

Pisang Pidak / Fidak / Fidya termasuk jenis pisang yang unik, bijinya besar-besar (kira-kira seukuran ujung telunjuk/kelinking) dan hampir seluruh buah dipenuhi biji. 

Uniknya lagi pisang pidak secara alamiah hanya dapat berkembang dengan baik dengan pertumbuhan generatif (melalui biji) dan sulit atau hampir tidak bisa berkembang biak secara vegetatif (melalui tunas), selama ini belum ada data terkait dengan rekayasa genetika mengenai budidaya pisang pidak.Pisang Pidak, sebagaimana pisang lainnya tidak mau mati jika ditebang, dan setelah berbuah dia akan mati, namun bedanya dengan pisang lain, pisang pidak tidak mau tumbuh dari tunas atau beranak, sedangkan umur pisang pidak sampai dengan berbuah antara 1,5 sampai 2,5 tahun

Cerita rakyat turun temurun di area makam Sunan Bonang, pisang biji besar ini hanya tumbuh di area makam Sunan Bonang di Tuban, tepatnya sebelah barat Alon Alon Tuban.

Apakah betul seperti itu?

Konon, Sunan Bonang salah satu wali songo mempunyai tasbih yang tersusun dari biji buah pisang, namun suatu saat tasbih Sunan Bonang tali pengikatnya putus dan biji-biji tasbihnya tercecer kemana-mana.

Para santri Sunan Bonang, membantu mengumpulkan biji-biji tasbih yang tesebar untuk dikumpulkan dan dirankai kembali, masih kurang 1 dari jumlah yang seharusnya.

Beberapa lama kemudian Sunan Giri menemukan 1 biji tasbih yang hilang pada waktu itu dan diserahkan ke Sunan Bonang, namun mbah Sunan berkata kepada Sunan Giri ,"biarlah satu biji yang ini di tanam saja agar tumbuh anak cucu pohon pisang penghasil biji disini dan akan banyak manfaatnya".

Sabdo wali Allah Sunan Bonang, akhirnya dari biji tasbih tersebut yang ditanam tumbuh pohon pisang yang menghasilkan buah berbiji besar bahan tasbih.

Dan sampai sekarang tasbih biji pisang  menjadi kerajinan warga area makam Sunan Bonang Tuban Jawa Timur dan disebut juga sebagai tasbih fidyah.

Saat ini tasbih khas tuban ini makin banyak diburu dan diminati.

Keunikan tasbih pisang pidak "semakin sering dipakai semakin mengkilat".

Dan diantara biji-biji pisang pidak ini dalam satu tundun / tandang pisang pidak jika dicermati ada sebagian kecil yang biji pisang yang berukuran agak kecil dibandingkan dengan biji yang lain.

Biasa, ada saja dari yang unik ini masih dicari keunikan lainnya, dan tentunya jumlahnya tidak banyak sehingga untuk mencari tasbih biji pisang pidak yang mempunyai biji pisang yang lebih kecil dari pada umumnya dan kalau dirangkai kelihatan racak dan untuk mendapatkanya tentu lebih sulit, setidaknya harus menunggu terkumpul dari beberapa tundun pisang pidak, karena dalam satu tundun/tandang (beberapa sisir) biasanya hanya ada beberapa  biji yang mempunya karakteristik seperti ini.

Contoh Tasbih Biji Pisang Pidak yang racak dan lebih kecil dari Tasbih Biji Pisang Pidak pada umumnya, seperti terlihat pada gambar


Sumber : Diolah dari berbagai sumber


Jumat, 10 Januari 2014

Sekilas Tentang "Sunan Bonan" Versi Wikipedia

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.

Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban.

Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. 
Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya. 
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad.

SILSILAH

Terdapat silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin Maulana Malik Ibrahim bin Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin Ahmad Jalaludin Khan bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin Ali Kholi' Qosam bin Alawi Ats-Tsani bin Muhammad Sohibus Saumi'ah bin Alawi Awwal bin Ubaidullah bin Muhammad Syahril Ali Zainal 'Abidin bin Hussain bin Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW)


KARYA SASTRA
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. 
Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang. 
Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.

KEILMUAN

Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu.

Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'.

Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an.

Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia

Referensi :
  • B.J.O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang, Utrecht: Den Boer
  • G.W.J. Drewes, 1969, The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Bonang (di Sadur pada tanggal  17 Mei 2013)

Sumber : http://tubanbumiwali.blogspot.com/2013/05/sekilas-tentang-sunan-bonan-versi.html